Nelayan_Nusantara merupakan situs blog “information-sharing” / perkongsian maklumat tentang warisan dan kehidupan nelayan di Nusantara. Blog ini juga membahas dan mendalami topik mengenai permasalahan dan permaslahatan yang dihadapi oleh nelayan seperti perubahan iklim dan ekosistem, pembangunan kapitalisme, reklamasi, kearifan lokal, “food security”, ketahanan pangan/ keterjaminan makanan dan kesejahteraan hidup. Berbicara mengenai komunitas dan kehidupan nelayan, blog ini menyediakan layanan berupa postingan artikel dan foto yang memungkinkan siapa saja bisa mengakses informasi dan hasil karya di blog ini dengan ketentuan dan syarat yang berlaku, jika kalian tertarik mengenai topik warisan kehidupan dan pemasalahan nelayan, silahkan hubungi kami melalui halaman kontak atau melalui email. Kami juga mengajak "information-sharing" sekiranya ada informasi atau foto/meme/ video relevan yang ingin “dishare”/dikongsi, silakan kirim kepada kami. Kami akan bantu “upload”/muatnaik s...
KUALA LUMPUR: Malaysia’s waters remain uncontaminated by the recent release of treated water from Japan’s Fukushima nuclear plant into the Pacific Ocean, says Chang Lih Kang, responding to recent concerns over the safety of local seafood. The Science, Technology, and Innovation Minister said current radioactivity levels of the country’s waters do not pose a threat. He said that according to expert reports and World Health Organisation guidelines, the target level for tritium (a product of nuclear fission) in drinking water is 10,000 becquerels per litre (Bq/L), and its half-life – the time required to halve the radiation dose – is 12.3 years. It has been 12 years since the Fukushima nuclear plant accident caused by the March 2011 tsunami, Chang pointed out. He added that, “To date, we have detected only 200Bq/L in Malaysia’s waters, and according to simulated flow patterns, it will be several more years before it (the treated waste water) reaches waters near Malaysia,” he said. “...
KOLAM udang yang dibina di tepi Sungai Kurau di Parit Buntar menimbulkan tanda tanya dalam kalangan nelayan yang bimbang kesannya terhadap hasil tangkapan mereka. - UTUSAN/WAT KAMAL ABAS PARIT BUNTAR: Kewujudan lebih 100 kolam ternakan udang di pinggir Sungai Kurau di sini menimbulkan tanda tanya dalam kalangan nelayan sungai yang bimbang ia mungkin menjejaskan pendapatan mereka. Wakil nelayan, Mohd. Radzi Said,53, berkata, kolam udang itu terletak bukan dalam zon akuakultur dan jumlahnya semakin banyak berbanding hanya dua atau tiga buah kolam sahaja sebelum ini. Menurutnya, pembinaan kolam udang… Berita selanjutnya di UTUSAN ONLINE https://www.utusan.com.my/nasional/2023/10/nelayan-bimbang-kolam-udang-haram-jejas-pendapatan-mereka/
Comments
Post a Comment
Tinggalkan komentar untuk meningkatkan kinerja